tulisan ini saya buat setelah membaca postingan dari Danoedan tentang Pemilwa di kampus saya.
jadi, hari itu, 4 desember 2008, sedang dilaksanakan pemilwa untuk memilih ketua BEM FBS UNY yang baru. dan proses penghitungan suara dilaksanakan pada hari itu juga yang dilakukan oleh DPM.
seperti biasa, saya tidak ikut nyoblos. 4 tahun saya kuliah di sana, dan 4 tahun juga saya tidak pernah nyoblos untuk urusan apa pun juga [termasuk dalam pemilihan rektor yang baru-baru saja sempat heboh di TV]. saya mendaftar jadi mahasiswa di UNY bukan untuk ikut pemilwa, tapi untuk bersenang-senang.
sampai pada malam harinya, saya mendapat sms dari Danoedan, isinya: KAMPUSMU LUCU
dan tidak saya balas
kira-kira setengah jam kemudian, kembali ringtone sms hp saya berbunyi, dan isinya cuma: ABSURD!
anehnya, saya tetap membiarkannya. tidak penting. itulah yang ada dalam pikiran saya. kampus saya lucu ataukah absurd, teman saya juga seorang yang absurd. didiamkan saja lebih baik.
setengah jam kemudian saya sadar, teman saya ini akan terus menganggu saya dengan sms bila saya tak membalas dengan jawaban apa pun. maka lewat sms juga, saya bertanya: KENAPA?
dan jawabannya sungguh membuat saya tertawa terbahak-bahak. dia hanya bercerewet-cerewet ria tentang: MASAK NGITUNG HASIL PEMILU DI MASJID!
lalu dengan santai saya balas saja: GANGGUIN AJA..MATIIN LAMPUNYA..
saya pikir masalahnya akan selesai sampai di sana. tapi ternyata tidak. hingga 2-3 hari sesudahnya, teman saya ini masih saja ribut soal penghitungan suara di masjid tadi [baca: mushola kampus]. dia memberondong saya dengan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan.
MASAK URUSAN POLITIK DIBAWA KE MASJID?
MASAK GAK ADA TEMPAT LAIN BUAT NGITUNG HASIL PEMILU?
MASAK PANITIA GAK BISA MINJEM TEMPAT YANG LEBIH LAYAK UNTUK ITU?"
LHA, KALO ADA ORANG NON-MUSLIM YANG PENGEN NONTON PROSES PENGHITUNGAN SUARANYA, NJUR PIYE?
dan saya hanya mencoba menjawab dengan sesuatu yang masuk akal.
YA BIARIN AJA, GAK APA-APA TOH.
MUNGKIN DIHITUNG DI MUSHOLA SUPAYA DEKAT DENGAN RUANG BEM ATAU DPM.
YA, EMANG PANITIANYA GAK BECUS BIKIN PEMILWA KOK, PENCALONAN DAN KAMPANYE CALON KETUA AJA GAK BECUS, YANG IKUT NYOBLOS JUGA CUMA YANG KE KAMPUS, BENAR-BENAR TIDAK INOVATIF.
LHA, KALO ADA ORANG NON-MUSLIM YANG MAU NONTON, YA NONTON AJA. EMANG SEJAK KAPAN ORANG NON-MUSLIM GAK BOLEH MASUK MUSHOLA
dan teman saya tetap ngotot dan bilang, TAPI GAK GITU MASALAHNYA. MASAK SIH MEREKA GAK BISA MIKIR?. dan saya juga ngotot menjawab, YA MAU GIMANA LAGI KALO KENYATAANNYA MEMANG BEGITU.
untuk sementara waktu masalahnya berhenti sampai di sana. dia masih tetap menggerutu. dan akhirnya tak tahan juga saya dengan gerutuannya. saya langsung ingat pada Makrab Sastra Indonesia 2004. ketika saya menjadi mahasiswa baru untuk pertama kali.
malam itu, dalam pendoktrinan [ceritanya untuk memantapkan hati para mahasiswa baru bahwa sastra indonesia adalah jurusan yang tepat dan membantu para mahasiswa baru untuk mencari tujuan sebenarnya apa yang dicari di jurusan sastra indonesia, namun seringkali dilakukan oleh para kakak-kakak angkatan dengan cara yang berbeda-beda dan kadang hanya untuk formalitas saja], naas sekali ternyata saya harus digiring oleh kakak angkatan saya yang bernama Fairuzul Mumtaz itu yang ternyata serius sekali mendoktrin saya dan tiga orang teman saya yang lain.
malam itu Si Virus Mumtaz itu heroik sekali beretorika soal jurusan sastra. dan kemudian mengeluarkan pertanyaan yang membuat kepala kami berempat cuma menunduk saja. dengan gaya seorang aktor dia bertanya: NGAPAIN KALIAN MASUK SASTRA INDONESIA? ANAK SASTRA ITU ORANG YANG KRITIS. TAPI KENAPA WAKTU OSPEK KEMARIN BANYAK YANG DIAM MENGHADAPI BANYAK KETIMPANGAN? KALO GAK BERANI PROTES YA GAK USAH MASUK SASTRA INDONESIA. JURUSAN KITA GAK BUTUH ORANG-ORANG PENAKUT SEPERTI KALIAN.
hahaha, monumental sekali kalo saya ingat-ingat. tapi ketika itu, nyatanya saya pun diam saja. merasa tidak perlu menjawab. dan tetap bertahan untuk tidak mengeluarkan pendapat sama sekali.
dan Virus Mumtaz kembali dengan semangatnya mengejek-ejek kami dan ujung-ujungnya kembali menikung ke masalah SARA. katanya pada saya: KAMU, KOMANG! MASAK KAMU TIDAK KEBERATAN KETIKA DISPLAY UKM, SAAT GILIRAN UKM HMI MELAKUKAN DISPLAY DAN SELURUH MAHASISWA DIPAKSA UNTUK IKUT BERDIRI DAN MENYAMBUT HMI DENGAN GEGAP GEMPITA? APA KAMU TIDAK PROTES KETIKA ITU HARUS KAMU LAKUKAN PADAHAL KAMU SEORANG HINDU?
dan anehnya, dibentak-bentak begitu pun saya diam saja. tiga teman saya yang lain melihat pada saya sambil tetap menunduk lesu. dan karena saya yang jadi fokus perhatian sekarang, saya pun dipaksa situasi untuk kemudian berkata dengan sok bijaksana [sambil mengutip-ngutip kalimat-kalimat yang pernah saya baca di sana-sini]. dengan suara yang pelan, antara sadar dan tidak karena bosan dan mulai mengantuk, saya berkata: SAYA MASUK SASTRA DENGAN MELEPASKAN ALAS KAKI SAYA. SAYA TIDAK MAU MEMBAWA APA PUN (TERMASUK IDEOLOGI AGAMA). YANG SAYA TAHU BAHWA KETIKA SAYA MASUK DALAM DUNIA SASTRA, SAYA HARUS TELANJANG SEPENUHNYA.
dan selesai sudah proses pendoktrinan malam itu. saya kembali biasa saja. sama sekali tak tersimpan rasa keberatan ataupun protes dalam diri saya hanya karena seseorang mengungkit masalah perbedaan agama itu dengan terang-terangan di depan saya.
sehingga sampai sekarang pun saya masih bisa menjawab urusan-urusan perbedaan itu dengan semaunya melalui jawaban-jawaban singkat, semacam: YA BIARIN AJA. GAK APA-APA TOH?
memang sulit menghadapi ini. karena saya seringkali dihadapkan dalam keadaan bagaimana saya harus bertoleransi pada teman-teman saya yang beragama lain. [sedangkan mereka belum tentu mau bertoleransi pada saya ketika saya butuh ruang untuk menjalankan ibadah saya]
mulai dari urusan kecil saja. saya harus terbiasa dengan pandangan aneh dari orang-orang di sekitar saya, saat saya dengan polosnya bertanya: ABIS MAGHRIB ITU JAM BERAPA? SAYA GAK TAU.
kadang saya mendapatkan banyak komentar-komentar lucu. MASAK GAK TAU ABIS MAGRIB JAM BERAPA? atau semacam: EH, MBAK. RAMADHAN KOK GAK PUASA, yang biasanya cuma saya jawab sambil senyum: IYA, MBAK. SEDANG HAID.
tapi bagaimana pun sulitnya keadaan yang saya alami, saya tetap bertahan untuk tidak memakai alas kaki. semoga kaki saya tidak makin pecah-pecah. karena tampaknya kaki saya sudah semakin parah akibat detergen.
hhmmmffff....
Saturday, December 13, 2008
bertahan untuk tak memakai alas kaki
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
05:49
15
komentar
Link ke posting ini
Sunday, December 07, 2008
yg selalu saya rindukan dari kampus...
[jumat malam in action - pekik nursasongko]
[melihat mendung di atas kantin]
[jumat malam in action - jali & co'ut]
[ready to study?]
[konser konser konser - edsacoustic]
[jumat malam in action - an ismanto]
[jumat malam in action - burhan fanani]
[di depan kantin mami rini]
[haul chairil - komunitas sarkem]
[trees with the wind]
[jumat malam in action - play guitar]
[jumat malam in action - dwi rahariyoso]
[jumat malam in action - teguh suryanto]
[preparing on stage - bhisma mahawira]
[sehabis jumat malam]
[prepare for concert - komunitas sasrkem]
[jumat malam in action - wahyu]
[ungu resto - closing time]
[jumat malam in action - aka]
[sehabis hujan di depan sarkem]
[concert must go on - komunitas sarkem]
[jumat malam in action - joko santoso]
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
04:41
4
komentar
Link ke posting ini
Izrail vs. penyair
kenapa kebanyakan puisi yang dikatakan indah ternyata adalah puisi kesedihan, juga kepedihan barangkali. dengan tokoh-tokoh pesakitan. sarat dengan rasa-rasa nyeri yang begitu kentara benar. yang membuat pembacanya kadang berurai airmata. hikz hikz hikz. [saya ini salah satu contoh orang yang selalu saja menangis membaca puisi bagus -- stop! puisi bagus? atau puisi sedih?]
ya, puisi bagus yang sedih [halah]. dan itu banyak. misalnya puisi Don Pablo ini:
Malam ini kutulis syair kesedihan/Mungkin dapat kutulis/Malam berkeping-keping dan bintang-bintang biru di angkasa gemetar dan bernyanyi. [maaf, saya tidak hapal lanjutannya]. itu tadi satu contoh saja. saya yakin Anda pasti dapat mencontohkan yang lain.
saya kemudian tiba-tiba nekat menyambung-nyambungkannya pada penggambaran kebesaran malaikat Izrail sang penyabut nyawa itu. Bahwa malaikat Izrail berbulu Za'faran dari kepala hingga kedua telapak kakinya, dan di setiap bulu ada satu juta muka dan setiap satu juta muka mempunyai satu juta mata dan satu juta mulut. Setiap mulut ada satu juta lidah, setiap lidah boleh berbicara satu juta bahasa.
Wow! Yuhuuuu!
apakah sang pencabut nyawa di hari kematian itu juga penguasa bahasa yang mampu bicara sejuta bahasa. dan ketika orang-orang yang mulai merasa ajalnya datang, tiba-tiba saja menjadi lebih puitik [atau bijak]. soal ini, saya mengalaminya sendiri bukan karena mendengar cerita orang-orang, bahwa beberapa orang yang tiba-tiba berubah sangat baik hati, kemudian meninggal beberapa hari setelahnya.
ah, saya ingat Kriapur lagi dan sajaknya:
KUPAHAT MAYATKU DI AIR
kupahat mayatku di air
namaku mengalir
pada batu dasar kali kuberi wajahku
pucat dan beku
di mana-mana ada tanah
ada darah
mataku berjalan di tengah-tengah
mencari mayatku sendiri
yang mengalir
namaku sampai di pantai
ombak membawa namaku
laut menyimpan namaku
semua ada di air
Solo, 1981
umumnya, tema-tema kematian dalam puisi memang seakan sulit sekali dihindari. para penyair yang menulisnya seringkali menciptakan diksi ajaib dan monumental perihal kematian [padahal waktu itu si penyair sendiri belum mengerti rasanya mati]. muncul kerinduan, sikap hidup yang bijak, dan tentu saja kepasrahan.
atau saya ingat lagi sajak Chairil yang satu ini
[TANPA JUDUL]
Biar malam kini lalu,
Cinta, tapi mimpi masih ganggu
Yang bawa kita bersama sekamar
Tinggi seperti gua dan sebisu
Stasiun akhir yang dingin
Di malam itu banyak berjejer siur katil-katil
Kita terbaring dalam sebuah
Yang paling terpencil.
Bisikan kita tidak pacu waktu
Kita berciuman, aku gembira
Atas segala tingkahmu,
Sungguh pun yang lain di sisiku
Dengan mata berisi dendam
Dan tangan lesu jatuh
Melihat dari ranjang.
Apakah dosa, apakah salah
Kecemasan berlimpah sesal
Yang jadikan aku korban
Kan lantas lakukan dengan tidak sangsi
Apa yang tidak bakal aku setuju?
Dengan lembut kau ceritakan
Kau sudah terima orang lain
Dan penuh sedih merasa
Aku orang ketiga dan lantas jalan.
Keterangan:
Sajak ini adalah salah satu dari sajak-sajak peninggalan Chairil Anwar yang belum pernah diumumkan, dari koleksi S. Suharto. Diketemukan bersama-sama dengan 11 sajak lain, 1 pasang sepatu, 1 kemeja, ½ kg gula, rekening dokter yang belum dibayar dan uang Rp 1,-
Sumber:
Mimbar Indonesia, No. 46, 18 November 1950
entah karena para penyairlah sang penguasa bahasa itu, banyak sekali penyair yang kemudian menjadi Izrail bagi dirinya sendiri. dan ada baiknya saya sudahi saja posting saya yang sungguh aneh ini. karena belakangan saya juga merasa puisi saya mulai aneh-aneh juga. [>_<]
Perhatian:
tulisan ini saya buat setelah membaca puisi Aan Mansyur berjudul Kepada Seorang Kekasih yang Mati Muda, silakan baca disini
baca juga cerita tentang Gus Zainal Arifin Thoha disini
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
03:34
5
komentar
Link ke posting ini
Tuesday, December 02, 2008
warna-warni hiiiii...
ini karena kejengkelan saya dengan segala sesuatu yang bernama warna. saya jengkel-jengkel-jengkel. rasanya jadi orang bodoh di dunia. masak iya, di kampus berdebat tentang warna? jingga itu kayak apa, merah muda kayak apa. huasyah. gak penting banget.
semua kejengkelan saya sesungguhnya sepele. cuma karena gak terima ketika langit sore itu sedang mendung, dan semburat warna senja berubah menjadi merah muda dengan dipayungi awan berwarna ungu. dan kombinasi warna itu indah sekali, sehingga Iman 'Cikedung' Romanshah itu berujar. "Waaa, Kokom. Senjanya indah banget je," yang langsung kujawab, "Wah, iya ya, warnanya UNGU."
lalu sibuklah kami mendefinisikan warna senja. "Bukan, Kom. Bukan UNGU, tapi MERAH MUDA, campur UNGU. MERAH KESUMBA," kata Iman lagi. lalu dikomentari oleh An 'Kabul' Ismanto, "Ini warna JINGGA." aku dan Iman langsung kompak menjawab, "Bukan, Mbah. JINGGA itu ORANYE." giliran Simbah Kabul yang meradang, "Lha, piye toh? jingga kok oranye? Jingga ya jingga, Oranye ya oranye." gantian aku yang naik darah karena merasa kemampuan mataku diremehkan, "Enggak, Mbah. Ini bukan jingga. Jingga itu lain lagi. Ini kan mendung, jadi warnanya berubah PINK KEUNGUAN." Simbah Kabul tambah sengit, "Kok PINK toh? Senja kok pink."
huashyah, penting gak seh berdebat soal warna-warna. tapi, walaupun gak penting sama sekali. tapi aku tetap gak terima karena seolah-olah aku ini bodoh sekali soal warna. dan yang tambah bikin aku gak terima lagi adalah ketika Simbah Kabul itu bilang, "Ya, senja di Jogja itu ya begini ini. Makanya puisiku lolos dimuat di Koran Tempo. Karena Nirwan itu tau senja di Jogja kayak apa. Yang aku tulis itu ya yang begini ini." halah halah, ndadak nggowo Nirwan barang. jian edan, mangkel tenan aku.
oke, itu sedikit tentang kegelisahanku tentang warna. karena ada jutaan warna di dunia berdasarkan perbedaan tingkat gradasinya. bagiku warna itu ajaib. aslinya hanya mentok pada PUTIH atau HITAM. selain warna primer MERAH, KUNING, dan BIRU. lainnya tidak ada. hanya percampuran antara warna-warna itu saja. dan kita tidak mampu memberinya nama-nama, selain karena kemampuan mata kita yang terbatas untuk mengenalinya secara tepat.
ketika TK dulu aku diajarkan mencampur warna. hitam + putih = ABU-ABU. merah + kuning = ORANYE. merah + biru = UNGU. kuning + biru = HUJAU. merah + kuning + biru = COKLAT. lalu di SD kelas 4 aku kenal dengan istilah me-ji-ku-hi-bi-ni-u. dan aku tertarik untuk mengetahui nama-nama warna-warna itu. aku mulai paham dengan nama JINGGA, CITRUS, TURQUOISE, NILA, dan MARUN.
tapi tak hanya sampai pada masalah itu saja ternyata. saat kita diharuskan untuk menyebutkan nama warna, ternyata kita seringkali membandingkannya dengan benda-benda. misalnya, MERAH JAMBU (jambu di halaman rumah siapa? jambu Pak Budi beda warnanya dengan Jambu Pak Iwan), HIJAU DAUN (daun apa? daun pohon maple beda warnanya dengan daun pohon mangga), HIJAU LUMUT (halah, apalagi ini), BIRU LANGIT (hah?! Jakarta langitnya kelabu lho), BIRU LAUT (dan ada juga yang bilang kalo laut warnanya hijau, bingung kan?).
iya, tambah bingung ??????????
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
19:40
9
komentar
Link ke posting ini
Wednesday, November 26, 2008
kembali ke Vivi Lestari - sebuah rindu akan puisi Mbok Vi
bila seseorang bertanya, "siapa penyair yang banyak memberi inspirasi dalam menulis?", aku seringkali merasa dijebak. [meski saya tahu penanya tersebut tidak sedang menjebakku]. bila dijawab tentu akan menimbulkan banyak penafsiran. bahwa aku terpengaruh oleh gaya si A, si B atau si C. tapi bila aku benar-benar dipaksa untuk menjawab, seringkali hanya kujawab ala kadarnya, "aku suka Chairil Anwar (khususnya Fragmen dan Pemberian Tahu), Subagio Sastrowardoyo (terutama Mata Penyair), Goenawan Mohamad (terlebih Tentang Seseorang yang Mati di Seputar Hari Pemilihan Umum -- semoga aku tak salah menulis judulnya), Dina Oktaviani (apalagi Prosa Tahun Baru), dan banyak lagi yang lainnya."
tapi beberapa waktu terakhir ini aku tak sedang mengingat karya-karya mereka. aku kembali menyuntuki puisi-puisi karya Putu Vivi Lestari. untuk ini, aku mesti benar-benar mengakui bila puisi-puisi Vivi-lah yang berhasil mengobarkan semangatku menulis pada awal-awal proses kepenulisan. aku masih teringat, di sebuah minggu pagi di tahun 2000, di halaman Apresiasi Bali Post Minggu, muncul puisi Vivi berjudul Zoya. aku langsung jatuh cinta kemudian berulang membacanya. [pun ketika keesokan harinya aku berkunjung ke sebuah rental komik dan novel langgananku semasa SMP dulu, aku menemukan novel berjudul Zoya karya Danielle Steel, hingga seketika itu juga saya ikut-ikutan jatuh cinta pada Danielle Steel].
ini puisi Vivi yang kumaksudkan:
ZOYA
Langit mengulum bintang
kelam mempererat malam
tanah kelahiran lebur jadi abu
Di depan katedral tua
aku menyalib masa lalu
api suci pemberkatan
malaikat bersayap
seribu kenangan melayang
di udara
Masa silam
istana pualam
mahkota bunga api
mengalir cermin sejarah di tubuhku.
Dalam gerimis musim
lagu kabung
usia tak mau berlari
sesekali jadi sunyi
sesekali jadi api
Saat jejak darah menjelma
jeritan perawan langit
Anak-anak altar
membagi nasib
: perjamuan terakhir
telah usai.
Di ruangMu
berkali kusalibkan air mata
tapi aku tetap hawa
meminang puncak kenikmatan
taman firdaus.
sejak peristiwa 'jatuh cinta' itu, segala macam tingkah polah dan laku dalam kepenulisan, sedikit tidaknya ada saja karena Vivi. dengan membaca puisi-puisi Vivi yang selalu saja nongol di Bali Post Minggu, aku belajar memilih kata, memenggal baris-baris dan membangun bentuk bangunan puisi.
soal membakar semangat seperti yang kusebut di atas tadi juga, bisa jadi disebabkan karena iklim kompetisi antar penulis yang dengan sengaja diciptakan oleh redaktur Apresiasi Bali Post Minggu. tiap hari Minggu pagi, aku selalu harap-harap cemas menunggu datangnya koran dari seorang pengantar koran. dan setiap puisi Vivi [lagi-lagi] termuat di sana, detik itu juga aku bergegas kembali menulis -- kasarnya, supaya bisa seperti Vivi.
aku menganggap bila kecintaanku pada Vivi adalah hal yang wajar saja. bagaimana tidak, sebagian besar puisinya selalu mampu membuatku kembali terdorong mengambil kertas dan pena, meski telah berulang kali dibaca. tetap saja tak membuatku bosan. juga ketika menelusuri prosesnya. aku menemukan lagi puisi Vivi di tahun-tahun awal proses penulisan puisinya yang serius. [konon, Vivi menulis puisi sejak kecil, lewat buku harian menjadi puisi-puisi curhat khas anak sekolah]. salah satunya berjudul Terpaku, aku dapatkan dari buku antologi puisi bersama Teater Angin SMU Negeri 1 Denpasar -- ekskul sekolah kami yang tercinta -- yang terbit tahun 1997. ada juga puisi berjudul Tangisan Ombak, yang juga ditulis di tahun 1997.
TERPAKU
Disini
menatap asap peleburan
yang memercik menjadi nyala api
sesayup gamelan Dewa Yadnya
menghempaskanku,
membakar atmaku
bajra pemangku nyaring terdengar
mantra puja jelas kuingat
tapi aku asing di duniaku
hitam pekat membungkusku
disaat darah merah masih mengalir
kucoba mantra ‘tuk Hyang Widhi
aku makin terasing
ketika orang-orang bertanya siapa aku?
TANGISAN OMBAK
Untaian tangis
yang kukalungkan
di lehermu
jadikan kenangan
: kita pernah bercumbu di sini
ingatkan debur ombak
yang suguhkan kidung laut
di mana kita berlomba
menggapai tepi
(tak mungkin tergapai)
tepian telah terbenam
Tangis yang terurai
jadikan cerita
: kita pernah rasakan kebahagiaan
Yang kini terampas
oleh kata
milik kita!
19 Oktober 1997
ada banyak kegelisahan dalam diri Vivi. terutama tentang kesejatian diri, juga sederet pertanyaan tentang Tuhan. hampir sebagian karya-karya Vivi memunculkan sisi keTuhanan itu. dirangkai dengan kisah-kisah sejarah, semisal epos Ramayana dan Mahabharata, atau kisah tentang perjalanan Kristus dari kelahiran hingga kematian juga kebangkitanNya.
berikut ini beberapa puisi Vivi yang [ternyata] masih saja membuatku membara ketika membacanya. dan Senja Menggantung di Langit adalah favoritku.
SEBUAH LABIRIN, KENANGAN !
Sebuah ruang
apa yang ditawarkan
kecuali kesunyian
Jam kuno menggesek
perapian
jarum jatuh
menjeritkan masa lalu
Bukan gelombang
menjemput orang kulit cokelat
dengan gunung kasar
dan pantai berdebu
bukan mainan laut
Meski telah kusesatkan
dosaku
di lipatan bibirmu
dalam lindungan warna
jendela lukisan Tuhan
(gaya gotik yang tak selesai)
Dan kurekatkan rumah perawan
di kepungan prajurit bertameng
parapet
Kastil tua
Tetap saja
musim kawin
menguapkan tawa
kelamin
maka resahlah rahasia
sejarah
cuma masa remaja yang tua
warisan air mata
memburu sunyi
Lalu sebuah ruang
apa yang mesti ditawarkan?
UPACARA AKHIR TAHUN
“Ke barat kekasihku”
Jalan makin hitam
merapat di sisi tahun
anak-anak gerimis
menari
pada layangan angin
Detik ini
Biarkan lilin mengurai
tangis
di sela jemari bunga
hingga cahaya yang lahir
menuntunmu berteduh
pada bayangan sendiri
“Ke barat kekasihku”
Di sana laron melepas sayap
kunang-kunang berbagi cahaya
pada langit
pada bulan yang ragu
merangkai detik.
Sementara daun-daun kenangan
meranggas
menuai badai
keluh kesah kabut
menyayat
doa harapan
DI SINI TAK ADA YANG SIA-SIA
Suatu hari akan kubacakan
sebaris sajak
tentang kesetiaan
yang mengiris keyakinan
keindahan adalah selaput duka
milik siapa saja.
Dengan air mata
dan sehelai sayap gerimis
akan kukirim ombak yang tua
pada separuh musim
Di sini tak ada yang sia-sia
bahkan sayup pukulan ombak
gigil duka dedaunan
ataupun serentetan semut
menuju pemakaman
Tak ada yang sia-sia
Air mata sajakku mengalirkan darah
anak-anak menyelipkan tangis
di sela gerimis ombak tua.
EPISODE MATA DADU
Antara kelip mata dadu
dengan apa kau sekarang
merestuiku?
Di katedral
tanpa nama
dan alamat
senja jatuh
untuk kesekian kalinya
doaku tak selesai
Aku tak ingat lagi
dalam derak ranjang
atau bangku-bangku
kutemukan angka keberuntunganku
Ini memang bukan golgota
di mana yesus
memetakan diri
dalam palang keramat
nikmat
dan ziarah
bukan pula Nanda
di mana krishna
menyapa cinta
dan birahi
dengan serulingnya
Doaku tak selesai…
saat 30 hari
peramanku matang
tanpa adonan
susu kental
dan tumbukan lesung
Lalu
dengan apa kau sekarang
merestuiku?
Di sini tak ada batu pirus
cuma sungai yang mengalirkan
air mata
picasso
dalam kanvas
guernica buram
Jika saja
istana yang runtuh
separut luka
yang tercecer
dapat kutolak
dengan nama tuhan
dan dewa-dewa
tentu aphrodite
tak akan selesai
hanya di liuk pualam
Malam seribu bulan
kenapa tak pernah sampai
di berandaku
mesti berapa leleh lagi
aku tawarkan
lubang kelamin
dengan sekerat cinta
yang belum matang
Tapi
tetap saja
pintu-pintu rahasia langit
tak jua membuka
dibiarkannya
sebaris senja jatuh
tanpa nama
dan alamat.
Agustus 2002
SENJA MENGGANTUNG DI LANGIT
seorang ibu meminjam tangis gerimis
(senja masih menggantung)
Seandainya aku korban terakhir,
mestikah kuingat sebait sajak
yang belum selesai kutulis
sementara tanganku gemetar
membagi doa
untuk ayahku, ibuku, saudaraku
dan mereka yang datang dengan takdir.
Erang sakit putus-putus memanggil
detak jantung dan nafasku
sendiri
aku menunggu
di detik mana peluru menyamar ratu adil
mengetuk dadaku
aku tak peduli
: hidup adalah anugrah
sebab Tuhan tak lagi punya Rama atau Krishna
aku tak lagi punya doa
Di atas langit kemerahan senja bergelayut riang
anyir udara mengepung inderaku
Tuhan, Tuhan
mengapa masih kuingat namaMu
Tarian takdir atau karma mesti kulakonkan
seorang ibu meminjam tangis gerimis
senja tetap saja menggantung
mungkin matahari lupa jalan kembali
(catatan: tipografi puisi mengikuti format blog -- alias tidak sesuai dengan aslinya)
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
23:27
5
komentar
Link ke posting ini
Friday, October 31, 2008
hidup di rimba raya - angan yang kelak sebatas kenangan
(setelah membaca posting danoedan yang tiba-tiba merasa waras)
suatu hari aku berpikir, bahwa semua orang waras di bumi ini pasti pernah bercita-cita untuk menyelamatkan dunia (hahaha, jadi ingat Dragon Ball, emang di bumi ada Pikolo). hidup dengan bahagia. tanpa harus memikirkan hal bersifat materiil dan selalu memberi selagi bisa.
BOANG BOANG BOANG, SIING!, sunyi untuk sesaat (halah, kalo ini murni gara-gara baca tulisan Seno Gumira di rubrik Bahasa! Majalah Tempo, yang lagi-lagi tentang komik).
begini,
sekitar 2 minggu yang lalu aku nonton film Into the Wild. tentang seseorang yang memiliki keinginan untuk mencari jati diri dengan jalan mengasingkan diri dari segala bentuk peradaban manusia masa kini. itu sama dengan menyingkirkan segala macam keinginan untuk berfoya-foya, membuang segala macam kemajuan teknologi, bahkan materi. hidup hanya dengan alam dan bergantung dari alam.
McCandless -- si tokoh utama -- adalah seorang cerdas yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. karena keadaan itulah ia mulai merasakan kejenuhan sehingga kemudian timbul niat untuk mencari makna kehidupan yang sesungguhnya di alam liar. pergi dari keluarga dan menuju hutan Alaska. untuk mencari dan memahami apa arti kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
beberapa orang yang termasuk dekat denganku, pernah melontarkan keinginan serupa seperti McCandless ini. termasuk juga aku tentu saja. sangat ingin merasakan bagaimana hidup di tempat yang sungguh asing. menyepi. sendirian -- benar-benar sendirian. menanggulangi rasa sepi justru dengan menjalani kesepian. menggigil sunyi lalu menemukan keriuhan di dalamnya.
begitulah, McCandless akhirnya pergi ke rimba Alaska untuk menjalani 100 hari kehidupan di sana. bertahan hidup dengan perbekalan seadanya. dan menulis catatan harian sepanjang waktu.
sungguh, aku kehabisan kata bila harus menjelaskan betapa istimewanya film ini. aku cuma bisa bilang bila film ini digarap dengam sangat datar tapi berisi. banyak hal aku dapat setelah menyimak dengan sungguh-sungguh. karena hati-hatilah menontonnya, Anda yang sangat suka film action bisa saja ketiduran bila kurang sabar akibat ceritanya yang tanpa adanya konflik dahsyat. ini murni kisah renungan. mempertanyakan tujuan hidup hingga mempertanyakan Tuhan.
satu hal yang benar-benar membuatku harus mengakui bahwa ini adalah film keren yaitu renungan akhir McCandless yang ia catat di catatan hariannya. intinya begini:
SEBAB KEBAHAGIAAN TAK AKAN BERARTI TANPA DIBAGI.
di akhir film, dalam hati aku berteriak "Asulah, asulah, asulah..."
dan entah kenapa tiba-tiba saja keinginan saya untuk hidup primitif di alam bebas dan menyendiri dalam sunyi tiba-tiba sirna begitu saja. karena bukan hidup sendiri yang ternyata saya inginkan, tapi hidup dengan berbagi.
setidaknya, aku mendapat satu pelajaran baru, semoga Anda juga mendapatkannya setelah menonton film ini.
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
00:45
4
komentar
Link ke posting ini
Wednesday, October 29, 2008
sumpah pemuda - ketika kata sumpah seolah bertuah

NB: hanya karena aku merasa masih muda, maka kutulis posting ini.
di sebuah pagi, tanggal 28 Oktober 2008, beberapa pesan singkat masuk ke inbox ponselku. intinya adalah mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda. aku agak berkerut kening juga -- maaf bila jiwa nasionalisme tidak mengakar dalam diri -- sedikit kaget tentu saja. sebegitu hebohnyakah Sumpah Pemuda merasuki diri beberapa kenalanku ini? lalu kenapa tidak denganku?
kemudian aku mengingat kembali isi dari Sumpah Pemuda yang diucapkan pada Kongres Pemuda II di Jakarta, 80 tahun silam.
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
(diambil dari www.museumsumpahpemuda.go.id)
aku pun tergelak tiba-tiba -- mohon maaf pada semua oknum yang tersinggung karena ini -- karena ada satu pertanyaan aneh bin ajaib yang tiba-tiba saja masuk dan nyelonong. apakah benar tiga poin yang disepakati oleh para pemuda pada 28 Oktober 1928 silam itu adalam sebuah SUMPAH? lalu di mana letak kata SUMPAH dalam ketiga poin tersebut? bukankan pernyataan-pernyataan diatas tadi lebih layak dinamai Putusan Pemuda?
tapi jujur saja, aku tak sedang ingin membahas itu. aku bukan mahasiswa sejarah yang betul-betul paham hakikat dari Sumpah Pemuda dan dampaknya bagi kehidupan sosial politik di Indonesia (meski sebagai mahasiswa sastra indonesia, aku dipaksa memahami arti penting Sumpah Pemuda pada kehidupan berbahasa -- halah, ndadak nganggo kehidupan berbahasa segala -- di tanah air). seperti yang tadi kukatakan, cuma pertanyaan aneh bin ajaib yang tiba-tiba saja masuk dan nyelonong mengganggu fokus perhatianku.
jadi begini masalah sebenarnya, aku merasa seorang pemuda mesti berSUMPAH untuk menyangga cerita pun berita yang sedang disampaikan. ini tentu saja bukan data yang valid berdasarkan hasil riset tim ahli. hanya pengalaman pribadi saja yang membuatku berkesimpulan demikian -- tentu saja aku seringkali, dengan mendadak tanpa terkontrol, mengucapkan kata SUMPAH ketika bercerita pada teman-teman bicaraku.
"kenapa orang-orang berusia muda seringkali dengan sungguh-sungguh heroik melontarkan kata SUMPAH dalam kehidupan sehari-hari, tapi jarang ditemui orang-orang tua yang tiba-tiba menggunakan kata SUMPAH agar dipercaya?"
hhh, aku jadi ingat teori Hegemoni Gramsci. jangan-jangan memang begitulah keadaannya. ketika kita berada dalam satu lingkup tertentu, dan kita sendiri berada dalam pengaruh hegemoni oleh orang lain -- biasanya oleh orang yang lebih senior atau lebih berkedudukan tinggi -- kita mesti melakukan sesuatu yang lebih ekstrim agar pembicaraan yang kita ucapkan terdengar lebih meyakinkan. termasuk menggunakan kata SUMPAH yang konon bertuah itu. bertuah karena tak boleh diingkari sehingga sebuah sumpah umumnya dapat dipercaya. dan saya seringkali menghadapi posisi ini dalam beberapa pembicaraan yang menuntut sebuah pertanggungjawaban.
contoh kecil saja, ketika Mama bertanya:
"Gek, pernah lihat liontin emas Mama gak? Kok hilang ya?"
aku menjawab dengan kata TIDAK, lengkap dengan kata SUMPAH, hanya untuk meyakinkan Mama bahwa aku memang tak tahu menahu tentang keberadaan liontinnya itu. bukan berarti Mamaku tak memercayai kata-kataku sehingga aku diharuskan bersumpah hanya untuk hal yang sangat sepele. tapi bagiku, kata SUMPAH itu melancarkan segalanya. tidak ada pembicaraan yang panjang dan memakan waktu lama hanya untuk mengurusi sebuah liontin. karena toh aku sudah bersumpah bahwa aku tak melihatnya.
jujur saja, keadaan-keadaan seperti ini kemudian membuatku mengaitkannya dengan Sumpah Pemuda. apakah para pemuda memang sedang memanfaatkan tuah dari kata SUMPAH tersebut dalam menamai pernyataan para pemuda di Kongres Pemuda II itu menjadi Sumpah Pemuda atau tidak? karena menurutku akan keren sekali bila yang namanya Sumpah Pemuda itu benar-benar berbunyi:
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, BERSOEMPAH BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA, dst, dst.
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
07:05
2
komentar
Link ke posting ini
Wednesday, September 24, 2008
tentang karung
apa yang ada dalam pikiran Anda ketika mendengar kata KARUNG?
aku sedang bermasalah dengan benda yang bernama karung ini. berawal karena aku mandeg menulis cerita tentang kopi. kurang lebih kalimatnya seperti ini: " ... memetik biji-biji kopi di kebun ... dan memasukkannya ke dalam KARUNG ... ". aku langsung berhenti menulis dan kehilangan mood untuk kembali melanjutkannya.
begini masalahnya. karung yang aku maksud dalam cerita itu adalah KARUNG PLASTIK putih yang biasa digunakan untuk mengarungi beras. tapi ketika aku membaca lagi kalimat itu dan sampai pada kata KARUNG, pikiranku langsung tertuju pada karung tebal coklat yang bernama KARUNG GONI itu. belum lagi bila mengingat KARUNG KAIN untuk tepung.
padahal - menurutku - janggal bila kujelaskan detail kata karung dalam cerita tersebut. aku merasa aneh bila harus menulis " ... memasukkannya ke dalam KARUNG PLASTIK ... "
aku berhenti menulis sejenak. sejak hari itu sampai sekarang, aku masih berpikir soal karung - meski akhirnya aku menemukan pengganti kata karung untuk kugunakan dalam cerita tadi - karena tetap terasa mengganjal dan menyita sedikit pikiran. jujur saja, aku masih ingin menggunakan kata karung.
dan saya jadi ingin bertanya pada Anda, apa yang langsung ada dalam pikiran Anda ketika mendengar kata KARUNG (saja). karung GONI? karung PLASTIK? karung KAIN? atau karung yang lain?
Diposkan oleh
ira puspitaningsih
di
03:55
9
komentar
Link ke posting ini

